YDBA Sekar Mlatti | Bidang Kesehatan Anak

The philanthropist who we respect,

 
Femina Group thanked the infinite for your trust to us to channel the donations you give to victims of natural disasters in the homeland.

 
In an effort to explore which areas need help rebuilding or rehabilitation of buildings Elementary School (SDN) is damaged by the disaster, we have been coordinating with authorities in the affected areas such as the Mentawai Islands and around Mount Merapi.

 
From the West Sumatra Provincial Education Department, we got the explanation that there are 6 in the Mentawai SDN heavily damaged by the earthquake and tsunami, but the sixth SDN was handled by the Ministry of Education. Thus you no longer need outside help, including from Femina Group.

 
We have also coordinated with the Department of Education DIY and visiting villages around the District Cangkringan, Sleman regency among other Gondang Village, Pangukrejo, Kinahrejo, Glagaharjo, and several other villages ravaged by a hot cloud (wedhus trash) and cold lava.

 
There are 4 SDN destroyed-even sunk as deep as 5 feet below the cold lava) in Sleman, respectively: SDN Srunen, SDN Glagaharjo, SDN Pangukrejo, SDN Gungan. All Elementary School is located in an area that should not be occupied or rebuilt. The local government decided to relocate and have already provided. Sleman new land on the border with Klaten (Central Java) to build a replacement school building.

 
The problem, residents do not want to be relocated. They persisted to stay and rebuild their homes at the old location is prone to disasters. When building a new Elementary School was established in a fairly remote location of the original population of the township, would be difficult for their children reach these locations. Thus the likely utilization of the new building would not be maximal.

 
Based on information from a TV station, we then survey the area south of Bandung in early September 2009 an earthquake measuring 7.8 magnitude hit. It turns out that info, despite being more than 1.5 years later, still a lot of school buildings that collapsed and severely damaged has not been repaired or touched assistance in this area, true. For example, in the City Pangalengan course, there are 4 SDN heavily damaged, one of SDN 01 Pintu, which 348 students are forced to learn to overcrowding in emergency building. In every classroom that has been prone to collapse, it sits between 60 to 72 students. With these considerations, finally chosen as a candidate SDN 01 Pintu recipients of the Femina Group. On May 2, 2011 -coinciding with National Education Day- signed Memorandum of Understanding (MOU) to rebuild the SDN 01 Pintu between the Femina Group by Government of Bandung regency. Laying the first stone held in late May 2011.

 
SDN 01 Phintu development consisting of eight (8) classrooms, one (1) office of teacher and principal, and four (4) WC students is planned to be completed in a period of 150 working days, which if counted from the end of May 2011, will completed in approximately the first week of November 2011. The cost for the construction and consulting services / regulatory Rp 1.100.000.000 (not including the cost of procurement of furniture around Rp 80.000.000). Thus the amount of funds expended for the SDN 01 is approximately Rp 1.180.000.000.

 
Similarly, we can provide an explanation in connection with the transfer of disaster relief funds to areas Pangalengan, Bandung regency, West Java. Hopefully Mr. / Mrs benefactors and partners who have entrusted their funds to us, can understand.

 
Jakarta, June 15, 2011
 
Femina Group
 
Svida Alisjahbana
 
President Director

Para dermawan yang terhormat,

 
Femina Group mengucapkan terima kasih yang tak terhingga atas kepercayaan Anda kepada kami untuk menyalurkan sumbangan yang Anda berikan kepada para korban bencana alam di tanah air.

 
Dalam upaya menjajaki daerah mana yang memerlukan bantuan pembangunan kembali atau rehabilitasi gedung-gedung Sekolah Dasar Negeri (SDN) yang rusak akibat bencana, kami telah melakukan koordinasi dengan pihak-pihak berwenang di daerah bencana seperti Kepulauan Mentawai dan seputar Gunung Merapi.

 
Dari pihak Dinas Pendidikan Provinsi Sumatra Barat, kami mendapat penjelasan bahwa di Mentawai ada 6 SDN yang rusak berat akibat gempa dan tsunami, tapi keenam SDN itu sudah ditangani oleh Kementerian Pendidikan. Dengan demikian tidak diperlukan lagi bantuan dari luar, termasuk dari Femina Group.

 
Kami juga sudah berkoordinasi dengan pihak Dinas Pendidikan DIY serta mengunjungi desa-desa di seputar Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman antara lain Desa Gondang, Pangukrejo, Kinahrejo, Glagaharjo, dan beberapa desa lain yang porak-poranda oleh awan panas (wedhus gembel) dan lahar dingin.

 
Ada 4 SDN yang hancur –bahkan tenggelam sedalam 5 meter di bawah lahar dingin) di wilayah Sleman, masing-masing: SDN Srunen, SDN Glagaharjo, SDN Pangukrejo, SDN Gungan. Semua SDN itu terletak di daerah yang tidak boleh ditinggali atau dibangun lagi. Pemda setempat memutuskan untuk merelokasi dan sudah menyediakan. lahan baru di perbatasan Sleman dengan Klaten (Jateng) untuk mendirikan bangunan sekolah pengganti.

 
Yang jadi masalah, penduduk tidak mau direlokasi. Mereka tetap bertahan untuk tinggal dan membangun kembali rumah mereka di lokasi lama yang rawan bencana. Bila gedung SDN didirikan di lokasi baru yang lumayan jauh dari perkampungan penduduk semula, akan sulit bagi anak-anak mereka mencapai lokasi tersebut. Dengan demikian besar kemungkinan pemanfaatan gedung baru itu tidak akan maksimal.

 
Berdasarkan informasi dari sebuah stasiun TV, kami kemudian survei ke daerah Bandung Selatan yang pada awal September 2009 dilanda gempa berkekuatan 7,8 SR. Ternyata info bahwa walaupun sudah berselang lebih dari 1,5 tahun, masih banyak bangunan sekolah yang runtuh dan rusak berat belum diperbaiki atau tersentuh bantuan di daerah ini, benar adanya.

 
Misalnya, di sekitar Kota Pangalengan saja setidaknya ada 4 SDN yang rusak berat, salah satunya SDN 01 Pintu, yang 348 muridnya terpaksa harus belajar berdesak-desakan di bangunan darurat. Di setiap ruang kelas yang sudah rawan runtuh itu, duduk antara 60 sampai 72 murid. Dengan pertimbangan itu, akhirnya dipilihlah SDN 01 Pintu sebagai calon penerima bantuan dari Femina Group.

 
Pada tanggal 2 Mei 2011 –bertepatan dengan Hardiknas- telah ditandatangani Kesepakatan Bersama (MOU) untuk membangun kembali SDN 01 Pintu antara Femina Group dengan Pemda Kabupaten Bandung. Peletakan batu pertama dilaksanakan pada akhir Mei 2011.

 
Pembangunan SDN 01 Phintu yang terdiri dari 8 (delapan) ruang belajar, 1 (satu) kantor guru dan Kepala sekolah, dan 4 (empat) WC murid itu direncanakan akan selesai dalam masa 150 hari kerja, yang kalau dihitung sejak akhir Mei 2011, akan selesai pada sekitar minggu pertama November 2011. Biaya untuk pembangunan gedung dan jasa konsultan/pengawas Rp 1,1 milyar (belum termasuk biaya pengadaan mebeler sekitar Rp 70- 80 juta). Dengan demikian jumlah dana yang dikeluarkan untuk SDN 01 adalah sekitar Rp 1,18 milyar.

 
Demikian penjelasan yang bisa kami berikan sehubungan dengan pengalihan dana bantuan bencana ke daerah Pangalengan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Semoga Bapak/Ibu para dermawan dan mitra yang telah mempercayakan penyaluran dana tersebut kepada kami, bisa memaklumi.

 
Jakarta, 15 Juni 2011
 
Femina Group
 
Svida Alisjahbana
 
Presiden Direktur