IPMI Show: Bukti Kecintaan Terhadap Negeri
Jakarta - 23 August 2008
Para desainer IPMI (Ikatan Perancang Mode Indonesia) mengguncang panggung Jakarta Fashion Week 2008 tadi malam (22/08/2008) di Pacific Place, Jakarta. Mereka membawa inspirasi dari seluruh pelosok negeri yang dipercantik sentuhan modern. Inilah bukti kesetiaan dan kecintaan mereka terhadap warisan nusantara yang kaya dan tak habis untuk digali.
Ghea Panggabean membuka show dengan tema Indo Tribal: Ikat. Malam tadi Ghea kembali hadir dengan ciri khas yang mengangkat awal karirnya, 25 tahun lalu, yaitu mentranslansikan motif Nusantara ke dalam print dan gaya modern. Warna-warna yang ditampilkannya meliputi warna tanah, terracotta orange, turquoise, coklat dan gradasi yang modern dan mengagumkan. Tuti Cholid mengusung Excelinity of Lines, dengan perpaduan motif garis-garis dari bahan lurik hasil eksplorasi dari serat sutera alam yang modern. Sementara Carmanita menghadirkan koleksi bertema Craftphoria yang dipengaruhi siluet oriental dan vintage dengan teknik drapery. Permainan warna dan kombinasi berbagai materialnya diperkaya aksesori vintage jewelry dan basket bags.
Pada sesi Kontemporer, Priyo Oktaviano secara mengejutkan mengangkat inspirasi dari serangga, seperti kupu-kupu, kumbang, kecoa dan belalang. Bahan satin, chiffon polyester, jersey cotton dan gabardine dalam warna-warna coklat tembaga, coklat muda, coklat permen tua ditunjang aksesori yang juga diambil dari motif serangga. Stephanus Hamy tak kalah memikat dengan tema Metamorfosa yang memadupadankan kain tradisional, seperti lurik, batik, sarung, tenun ikat songket untuk memenuhi gaya busana masyarakat kota.
Di show Kontemporer berikutnya, Kanaya Tabitha tampil dalam Provocateur yang mencoba mengisahkan provokasinya dalam gaya rancangan terbaru. Kanaya tampil dengan warna nude, black, lemon green, pink, merah dan biru. Sementara Era M Soekamto, mengangkat Batik Fractal hasil pengembangan motif batik Parang Rusak dan Sekar Jagat yang difractalkan dengan memecah rumus matematika komputerisasi. Hasilnya, fractal dikemas secara ringan, ready to wear dan chic serta dinamis untuk wanita modern.
Karya Liliana Lim juga memikat dengan tenun ikatnya yang memanfaatkan serat alam sebagai bahan utama. Ia mengangkat warisan tradisi Nusa Tenggara Timur dalam karyanya tadi malam. Aplaus meriah juga diberikan untuk Ari Seputra yang memadukan
elemen barat dan etnik Indonesia, seperti bordir, serta warna-warna natural, seperti beige, coklat, hijau dan terracotta, semua dalam nuansa “New 70’s.” Sementara Denny Wirawan memanjakan mata dengan busana ready to wear deluxe dalam nuansa cocktail yang mengadaptasi gaya 60an. Potongannya lebih sederhana namun diperkaya detil dan ornament yang atraktif dengan warna-warna emas perak dan tembaga.
Di panggung Style Promenade, Syahreza Muslim mengusung tema Ribbonism. Berbagai bentuk pita dalam variasi nuansa dari yang kecil hingga berkelepak besar menyatu dalam busana yang berkarakter girly dengan siluet A line, volume, drapery, mini dan maxi. Material unggulannya adalah chiffon, satin dan tenun Makassar. Valentino Napitupulu dalam “Grey Area” membawa busana dengan gaya dan potongan elegan dipadukan dengan permainan detail lipit lurus mapun serong dan permainan aplikasi seperti tempelan bunga. Terbuat dari chiffon, aplikasi bahan lace (brokat) dalam berbagai motif dan ditunjang kemewahan kristal Swarowsky serta pemakaian renda untuk memperkaya detail.
Pada show akhir, Chossy Latu mengetengahkan batik yang dapat dipakai dalam berbagai suasana, bahkan beach wear dengan motif batik. Chossy tetap konsisten dengan garis terstruktur dan elegan dalam karyanya. Sementara Widhi Budimulia terinspirasi sarung, kemben, stagen dan menerjemahkannya dalam busana yang simple, chic, elegance dan minimalis. Rusli Tjohnardi tampil dengan koleksi yang memberi sentuhan bahan tradisional yang dipadu dengan smart dan modern. Tenun Makassar dalam warna-warna yang bold dan menggoda. Menurutnya, karyanya kali ini silently disturbing, cloudy metropolis and strong sophistication.